Silogisme merupakan suatu cara berpikir secara logis dan masuk ke dalam penalaran. Penalaran dalam bentuk ini jarang ditemukan /dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering mengikuti polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak sadar. Misalnya ucapan “Dia di terima karena memenuhi semua syarat “R”, sebenarnya dapat kita kembalikan ke dalam bentuk formal berikut:
a. Barang siapa memenuhi syarat “X” dapat diterima.
b. Ia memenuhi syarat “X”
c. la dapat diterima.
Bentuk seperti itulah yang disebut silogisme. Kalimat pertama (premis ma-yor) dan kalimat kedua (premis minor) merupakan pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan (kalimat ketiga).
Pada contoh, kita lihat bahwa ungkapan “memenuhi …” pada premis (mayor) diulangi dalam (premis minor). Demikian pula ungkapan “dapat diterima” di dalam kesimpulan. Hal itu terjadi pada bentuk silogisme yang standar.
Akan tetapi, kerap kali terjadi bahwa silogisme itu tidak mengikuti bentuk standar seperti itu.
Misalnya:
- Semua yang diterima itu karena memenuhi syarat
- Kita selalu memenuhi syarat
- Kita perlu cemas bahwa kita tidak akan diterima.
Pernyataan itu dapat dikembalikan menjadi:
a. Semua yang memenuhi syarat dapat diterima
b. Kita tidak pernah tidak memenuhi (selalu melengkapi) syarat
c. Kita dapat diterima.
Secara singkat silogisme dapat dituliskan JikaA=B dan B=C maka A=C
Penalaran adalah proses berpikir dari apa yang terjadi dan menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan kejadian yang sejenis juga akan membentuk sudut pandang sejenis, berdasarkan sejumlah sudut pandang yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah sudut pandang baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, sudut padang yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi .
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif .
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Contoh:
Jika di dinginkan, air membeku.
Jika di dinginkan, makanan membeku.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Mahasiswa Gunadarma konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak , untuk mewujudkannya diperlukansimbol . Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa , sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen .
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata , sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis .
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitasberpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran.
Nama : Junaidy Chandra
npm : 3ea12
kelas : 10209404